KEHAMILAN DENGAN INFEKSI
2.1 Pengertian
Hepatitis merupakan suatu istilah umum untuk terjadinya peradangan pada
sel-sel hati. Hepatitis dapat disebabkan oleh kondisi non-infeksi seperti
obat-obatan, alkohol, dan penyakit autoimun, atau oleh adanya infeksi seperti
hepatitis virus.
Hepatitis
virus terjadi bila virus hepatitis masuk ke dalam tubuh dan kemudian merusak
sel-sel hati. Cara masuknya virus hepatitis ke dalam tubuh bisa bermacam-macam,
namun yang paling sering adalah melalui makanan dan minuman (hepatitis virus A
dan E), atau melalui cairan tubuh misalnya melalui transfusi darah, suntikan,
atau hubungan seksual (hepatitis virus B, C, dan D).
Ketika
virus hepatitis masuk ke dalam tubuh maka akan timbul berbagai gejala, mulai
dari yang ringan (bahkan tanpa gejala) sampai yang berat. Gejala yang dapat
muncul akibat infeksi virus hepatitis diantaranya demam, nyeri otot,
gejala-gejala mirip flu (flu-like syndrome), mual atau muntah, serta nyeri
perut, yang kemudian akan diikuti mata atau kulit berwarna kuning, serta buang
air kecil akan berwarna kecoklatan. Pada sebagian besar pasien, gejala-gejala
tersebut akan membaik dengan sendirinya dan akan hilang sama sekali setelah 4-6
minggu, sementara sebagian kecil pasien keluhan-keluhan itu akan semakin
memberat sehingga memerlukan perawatan yang khusus. Kondisi sakit seperti yang
disebutkan di atas disebut sebagai hepatitis virus akut.
Bila
infeksi hepatitis virus akut itu disebabkan oleh virus hepatitis A dan E, maka
umumnya pasien akan sembuh total dan penyakitnya tidak berlanjut menjadi
kronik. Hepatitis virus kronik dapat terjadi pada sebagian pasien yang
mengalami infeksi hepatitis virus akut B, C, atau D. Seseorang dikatakan
menderita hepatitis kronik bila virus hepatitis atau komponen-komponennya masih
ada di dalam tubuh, dan secara perlahan tetap akan merusak sel-sel hati dan
berpotensi untuk menularkan ke orang lain, walaupun gejala-gejala sudah
menghilang dan secara fisik pasien sudah segar-bugar. Hepatitis kronik perlu
mendapat perhatian khusus, karena penyakitnya bisa berlanjut menjadi sirosis
hati (hati mengecil akibat sel-sel hati banyak yang digantikan jaringan parut)
dan bahkan bisa menjadi kanker hati. Diperkirakan bahwa sekitar 10 hingga 30%
dari pengidap hepatitis B dan C akan berkembang menjadi sirosis dan kanker
hati. Baik sirosis atau kanker hati merupakan suatu kondisi akhir dari suatu
penyakit hati kronik, dengan berbagai gejala dan komplikasi yang berat dan
mengancam nyawa (seperti perdarahan saluran cerna, gagal hati, penurunan
kesadaran, gangguan mekanisme pembekuan darah, infeksi di rongga perut yang
penuh terisi cairan, sampai pada kematian).
Hepatitis adalah Suatu peradangan
pada hati yang terjadi karena toksin seperti; kimia atau obat atau agen
penyakit infeksi (Asuhan keperawatan pada anak, 2002; 131)
Hepatitis adalah keadaan radang/cedera pada hati, sebagai reaksi terhadap
virus,
obat atau alkohol (Ptofisiologi untuk
keperawatan, 2000;145)
2.2 Etiologi Dan Faktor Resiko
1. Hepatitis A
a. Virus hepetitis
A (HAV) terdiri dari RNA berbentuk bulat tidak berselubung berukuran 27
nm
b. Ditularkan melalui jalur fekal – oral,
sanitasi yang jelek, kontak antara manusia,dibawah oleh
air dan makanan
c. Masa inkubasinya 15 – 49 hari dengan rata –
rata 30 hari
d. Infeksi ini mudah terjadi didalam
lingkungan dengan higiene dan sanitasi yang buruk dengan
penduduk yang sangat padat.
2. Hepetitis B (HBV)
a. Virus hepatitis B (HBV) merupakan virus
yang bercangkang ganda yang
memiliki ukuran 42 nm
b. Ditularkan melalui parenteral atau lewat
dengan karier atau penderita infeksi
akut, kontak seksual dan fekal-oral. Penularan
perinatal dari ibu kepada bayinya.
c. Masa inkubasi 26 – 160 hari dengan rata-
rata 70 – 80 hari.
d. Faktor resiko bagi para dokter bedah,
pekerja laboratorium, dokter gigi, perawat dan terapis respiratorik, staf dan
pasien dalam unit hemodialisis serta onkologi laki-laki biseksual serta
homoseksual yang aktif dalam hubungan seksual dan para pemaki obat-obat IV juga
beresiko.
3. Hepatitis C (HCV)
a.
Virus hepatitis C (HCV) merupakan virus RNA kecil, terbungkus lemak yang
diameternya 30 – 60 nm.
b.
Ditularkan melalui jalur parenteral dan kemungkinan juga disebabkan juga oleh
kontak seksual.
c.
Masa inkubasi virus ini 15 – 60 hari dengan rata – 50 har
d.
Faktor resiko hampir sama dengan hepetitis B
2.3 Patofisiologi
Virus hepatitis yang menyerang hati menyebabkan peradangan dan
infiltrat pada hepatocytes oleh sel mononukleous. Proses ini menyebabkan
degrenerasi dan nekrosis sel perenchyn hati.
Respon peradangan menyebabkan pembekakan dalam memblokir sistem
drainage hati, sehingga terjadi destruksi pada sel hati. Keadaan ini menjadi
statis empedu (biliary) dan empedu tidak dapat diekresikan kedalam kantong
empedu bahkan kedalam usus, sehingga meningkat dalam darah sebagai
hiperbilirubinemia, dalam urine sebagai urobilinogen dan kulit hapatoceluler
jaundice.
Hepatitis terjadi dari yang asimptomatik samapi dengan timbunya sakit
dengan gejala ringan. Sel hati mengalami regenerasi secara komplit dalam 2
sampai 3 bulan lebih gawat bila dengan nekrosis hati dan bahkan kematian.
Hepattis dengan sub akut dan kronik dapat permanen dan terjadinya gangguan pada
fungsi hati. Individu yang dengan kronik akan sebagai karier penyakit dan
resiko berkembang biak menjadi penyakit kronik hati atau kanker hati
2.4 Manifestasi Klinik
Menifestasi klinik dari semua jenis hepatitis virus secara umum sama.
Manifestasi klinik dapat dibedakan berdasarkan stadium. Adapun manifestasi dari
masing – amsing stadium adalah sebagai berikut.
1.
Stadium praicterik berlangsung selama 4 – 7 hari. Pasien mengeluh sakit kepala,
lemah, anoreksia, muntah,
demam, nyeri pada otot dan nyeri diperut kanan atas urin menjadi lebih coklat.
2.
Stadium icterik berlangsung selama 3 – 6 minggu. Icterus mula –mula terlihat
pada sklera,kemudian pada kulit seluruh tubuh. Keluhan – keluhan berkurang,
tetapi klien masih lemah, anoreksia dan muntah. Tinja mungkin berwarna kelabu
atau kuning muda. Hati membesar dan nyeri tekan.
3.
Stadium pascaikterik (rekonvalesensi). Ikterus mereda, warna urin dan tinja
menjadi normal lagi. Penyebuhan pada anak – anak menjadi lebih cepat pada orang
dewasa, yaitu pada akhir bulan ke 2, karena penyebab yang biasanya berbeda.
2.4 Tes Diagnostik
1.
ASR (SGOT) / ALT (SGPT)
Awalnya meningkat. Dapat meningkat 1-2 minggu sebelum ikterik kemudian
tampak menurun. SGOT/SGPT merupakan enzim – enzim intra seluler yang terutama
berada dijantung, hati dan jaringan skelet, terlepas dari jaringan yang rusak,
meningkat pada kerusakan sel hati
2.
Darah Lengkap (DL)
SDM menurun sehubungan dengan penurunan hidup SDM (gangguan enzim
hati)atau mengakibatkan perdarahan.
3.
Leukopenia
Trombositopenia
mungkin ada (splenomegali)
4. Diferensia Darah Lengkap
Leukositosis,
monositosis, limfosit, atipikal dan sel plasma.
5. Alkali phosfatase
Agaknya meningkat (kecuali ada kolestasis berat)
6. Feses
Warna
tanah liat, steatorea (penurunan fungsi hati)
7. Albumin Serum
Menurn,
hal ini disebabkan karena sebagian besar protein serum disintesis oleh
hati
dan karena itu kadarnya menurun pada berbagai gangguan hati.
8. Gula Darah
Hiperglikemia
transien / hipeglikemia (gangguan fungsi hati).
9.
Anti HAVIgM
Positif
pada tipe A
10. HbsAG
Dapat
positif (tipe B) atau negatif (tipe A)
11. Masa Protrombin
Mungkin
memanjang (disfungsi hati), akibat kerusakan sel hati atau berkurang.
Meningkat
absorbsi vitamin K yang penting untuk sintesis protombin.
12. Bilirubin serum
Diatas
2,5 mg/100 ml (bila diatas 200 mg/ml, prognosis buruk, mungkin
berhubungan
dengan peningkatan nekrosis seluler)
13. Tes Eksresi BSP (Bromsulfoptalein)
Kadar
darah meningkat.
BPS
dibersihkan dari darah, disimpan dan dikonyugasi dan diekskresi. Adanya
gangguan
dalam satu proses ini menyebabkan kenaikan retensi BSP.
14. Biopsi Hati
Menujukkan
diagnosis dan luas nekrosis
15. Skan Hati
Membantu
dalam perkiraan beratnya kerusakan parenkin hati.
16. Urinalisa
Peningkatan
kadar bilirubin.
Gangguan eksresi bilirubin mengakibatkan hiperbilirubinemia
terkonyugasi. Karena bilirubin terkonyugasi larut dalam air, ia dsekresi dalam
urin menimbulkan bilirubinuria.
2.5 Penatalaksanaan
Medik
Tidak ada terpi sfesifik untuk hepatitis
virus. Tirah baring selama fase akut dengan diet yang cukup bergizi
merupakan anjuran yang lazim. Pemberian makanan intravena mungkin perlu
selama fase akut bila pasienterus menerus muntah. Aktivitas fisik biasanya
perlu dibatasi hingga gejala-gejala mereda dan tes fungsi hati
kembali normal.
4. Hepatitis D (HDV)
a. Virus hepatitis B (HDP) merupakan virus RNA berukuran 35 nm
b.
Penularannya terutama melalui serum dan menyerang orang yang memiliki kebiasaan
memakai
obat
terlarang dan penderita hemovilia
c.
Masa inkubasi dari virus ini 21 – 140 hari dengan rata – rata 35 hari
d.
Faktor resiko hepatitis D hampir sama dengan hepatitis B.
5. Hepattitis E (HEV)
a. Virus hepatitis E (HEV) merupakan virus RNA kecil yang diameternya +
32 – 36 nm.
b. Penularan virus ini melalui jalur fekal-oral, kontak antara manusia
dimungkinkan
meskipun resikonya rendah.
c. Masa inkubasi 15 – 65 hari dengan rata – rata 42 hari.
d. Faktor resiko perjalanan kenegara dengan insiden tinggi hepatitis E
dan makan
makanan,
minum minuman yang terkontaminasi.
2.5 Hepatitis Pada Kehamilan
Sama
seperti pada orang pada umumnya, seorang ibu yang hamil dapat berisiko
mengalami hepatitis virus dan seseorang yang sudah mengalami hepatitis kronik
dapat hamil. Semua
jenis virus hepatitis dapat menginfeksi ibu hamil, dan dapat menimbulkan gejala
hepatitis virus akut. Gejala dan tanda infeksi hepatitis virus akut yang
terjadi pada kehamilan umumnya tidak banyak berbeda dengan mereka yang tidak
hamil. Yang perlu dilakukan adalah memeriksakan diri ke dokter bila muncul
gejala-gejala yang sudah disebutkan di atas tadi untuk memastikan apakah ini
suatu hepatitis virus atau bukan, menentukan jenis virus apa yang menginfeksi,
serta menentukan derajat kerusahan sel hati yang terjadi. Biasanya dokter akan
menganjurkan perawatan di rumah sakit untuk memantau perkembangan penyakitnya,
serta memastikan bahwa pasien cukup istirahat dan mendapat asupan makanan yang
baik. Umumnya ibu hamil yang mengalami hepatitis virus akut akan sembuh dalam 4
sampai 6 minggu.
Menentukan jenis virus hepatitis apa yang
menginfeksi merupakan hal penting, sebab seperti yang telah disebutkan di atas,
bila virus hepatitis B dan C yang menginfeksi maka perlu dilakukan
langkah-langkah lebih lanjut untuk mengantisipasi perkembangan penyakit lebih
lanjut serta mencegah penularan penyakit ke janin atau bayi. Bila ibu hamil
terinfeksi hepatitis virus B atau C, maka dokter akan melakukan berbagai
pemeriksaan lanjutan untuk menentukan apakah hepatitis virusnya dalam kondisi
aktif dan menularkan ke orang lain atau tidak, termasuk ke janinnya.
2.5.1 Infeksi hepatitis
pada ibu hamil
Merupakan masalah yang serius. Infeksi hepatitis ditularkan melalui cara
horizontal yaitu melalui parenteral dengan terpapar darah, semen, sekresi
vagina, saliva dan vertikal ibu ke janin. Penularan secara vertikal dapat
melalui beberapa cara yaitu melaui plasenta, kontaminasi darah selama
melahirkan, transmisi fekal-oral pada masa puerperium atau permulaan partus,
transmisi melalui laktasi (Akbar,1996; Reinus,1999; Cunningham,2001).
2.5.2Pengaruh Hepatitis Terhadap Janin/Neonatus
3,5 % Risiko keseluruhan dari infeksi neonatal kira-kira 75% jika ibu
terinfeksi pada trimester ketiga atau masa nifas ; dan risiko ini jauh lebih
rendah (5-10%) jika ibu terinfeksi pada awal kehamilan. Sebagian besar infeksi
pada bayi baru lahir kemungkinan terjadi saat persalinan dan kelahiran atau
melalui kontak ibu bayi, daripada secara transplasental.Walaupun sebagian besar
bayi-bayi menunjukkan tanda infeksi ikterus ringan, mereka cenderung menjadi
carrier. Status carrier ini dipertimbangkan akan menjadi sirosis hepatis dan
karsinoma hepatoseluler. Infeksi kronik terjadi kira-kira 90% pada bayi yang
terinfeksi, 60% pada anak < 5 tahun dan 2%-6% pada dewasa. Diantaranya,
seseorang dengan infeksi kronik HBV, risiko kematian dari sirosis dan karsinoma
hepatoselular adalah 15% - 25%. Infeksi HBV bukan merupakan agen teratogenik.
Bagaimanapun, terdapat insidens berat lahir rendah yang lebih tinggi diantara
bayi-bayi dengan ibu yang menderita infeksi akut selama hamil. Pada satu
penelitian hepatitis akut maternal (tipe B atau non-B) tidak mempengaruhi
insidens dari malformasi kongenital, lahir mati, abortus, atau malnutrisi
intrauterin. Tetapi, hepatitis akut menyebabkan peningkatan insidens
prematuritas.
2.5.3Antepartum
Infeksi
hepatitis kadang tidak disadari karena hanya menimbulkan demam ringan.
Hanya30%penderita yang mengalami kuning, mual, muntah, dan nyeri perut kanan
atas. Oleh karena itu, diagnosis ditegakkan dengan mengandalkan pemeriksaan
darah yang spesifik untuk hepatitis (HbsAg, anti-HBs) dan fungsi hati yaitu
enzim SGOT dan SGPT. Infeksi hepatitis tidak menyebabkan kematian atau
kecacatan pada janin. Namun infeksi saat kehamilan kerap berkaitan dengan berat
lahir rendah dan lahir prematur. Penularan ke bayi lebih besar terjadi jika ibu
terinfeksi pada trimester ke tiga, yaitu 10% pada trimester pertama dan 60-90%
pada trimester ketiga.
2.5.4 Yang harus dilakukan oleh ibu hamil
a. Mendapat kombinasi antibodi pasif (immunoglobulin) dan imunisasi
aktif vaksin hepatitis. b.Tidak minum alkohol
c. Menghindari obat-obatan yang hepatotoksis
seperti asetaminofen yang dapat memperburukkerusakan hati
d. Tidak mendonor darah, bagian tubuh dan jaringan. Tidak menggunakan
alat pribadi yang dapat terpapar darah dengan orang lain
e. Menginformasikan pada dokter anak, dokter Kebidanan dan bidan bahwa
mereka carrier hepatitis, Memastikan bahwa bayi mereka mendapat vaksin
hepatitis waktu lahir, umur 1 bulan, dan 6 bulan.
f. Kontrol sedikitnya setahun sekali ke dokter
g. Mendiskusikan risiko penularan dengan pasangan mereka dan
mendiskusikan pentingnya konseling dan pemeriksaan
2.5.5 Persalinan
Walaupun
persalinan secara seksio sesarea sudah dianjurkan dalam arti untuk penurunan
transmisi HBV dari ibu ke anak, jenis persalinan ini tidak berarti secara
bermakna dapat menghentikan transmisi HBV. Tetapi seksio sesarea sangat
disarankan oleh Centers for Disease Control (CDC) dan American College of
Obstetricians and Ginyecologists (ACOG)
2.5.6 Bayi baru lahir
Bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi (termasuk carrier HBsAg
kronik) harus di terapi dengan kombinasi dari antibodi pasif (immunoglobulin)
dan aktif imunisasi dengan vaksin hepatitis.
2.5.7 Apakah boleh
menyusui
Dengan imunoprofilaksis hepatitis yang sesuai, menyusui tidak
memperlihatkan risiko tambahan untuk penularan dari carrier virus hepatitis
Asalkan bayi sudah mendapatkan HBIG dan vaksin hepatitis selama 12 jam pertama
kelahiran, maka ibu dapat menyusui tanpa khawatir si kecil tertular. Awasi juga
keadaan puting ibu, agar tidak terluka atau lecet. Setiap ibu selesai menyusui,
puting susu dibersihkan dengan air hangat tanpa sabun. Sabun dapat membuat
kulit kering dan mudah luka.
2.5.8 Prevalensi
HbsAg pada wanita hamil di perkotaan pada bangsa kulit putih non hispanik
sebesar 0,60%, kulit hitam non hispanik 0,97 %, hispanik 0,14 % dan bangsa Asia
5,79 %. Insiden batu empedu selama kehamilan meningkat. Pada suatu penelitian
di Italia dengan pemeriksaan ultrasound didapatkan lebih dari 40 % wanita hamil
mengidap batu empedu. Hal ini dihubungkan dengan hasil lithogenik peningkatan
saturasi kolesterol dan penurunan asam deoksiribonukleik pada kandung empedu
selama periode tingginya konsentrasi estrogen dan pengurangan fungsi pengosongan
kandung empedu selama kehamilan. Setiap tahun di Amerika Serikat diperkirakan
250.000 orang, terinfeksi virus Hepatitis, tiga puluh lima ribu diantaranya
anak-anak, sekitar 5.000 orang meninggal karenanya. Diseluruh dunia, 350 juta
orang terinfeksi kronis, menyebabkan 1 sampai 2 juta kematian tiap tahunnya.
Penularan perinatal dari ibu pengidap HBs Ag kepada anaknya merupakan jalur
transmisi penting untuk terjadinya kronisitas infeksi. Pada tinjauan kasus ini
kami akan membahas penanganan seorang penderita Hepatitis Akut dengan
kehamilannya.
2.5.9 Siapa yang harus
menjalani pemeriksaan
1. Semua wanita hamil saat ANC pertama kali harus di cek HBsAg.
2. Setiap wanita yg akan melahirkan yang tidak menjalani pmeriksaan
HBsAg saat kunjunganANC-nya.
3. Lebih dari 90% dari perempuan ditemukan HBsAg positif pada rutin
pemutaran film akan
4. Semua rentan kontak (termasuk semua anggota keluarga) dengan panel
hepatitis (HBsAg, antiHBc, antiHBs).
5. Skrining dan vaksinasi yang rawan kontak harus dilakukan
2.4.10 Rekomendari untuk
perempuan
Advisory Committee on Immunization Practice, mereka
merekonmendasikan semua perempuan hamil diperiksa HbsAg pada masa
kehamilan awal. Setiap bayi yang lahir dari ibu dengan HbsAg positif atau ibu yang
HbsAg-nya tidak diketahui, harus mendapat vaksin hepatitis dan HBIG (hepatitis
Immunoglobulin). Booster vaksin hepatitis kemudian diberikan dua kali yaitu
saat bayi berusia 1 bulan dan usia 3-6 bulan. Setelah vaksin diberikan lengkap,
maka pada usia 9-18 bulan, sebaiknya dilakukan pemeriksaan HbsAg dan anti-HBs.
Bila pemeriksaan anti-HBs dilakukan sebelum usia 9 bulan, bisa jadi anti-HBS
positif akibat pemberian HBIG dan bukan antibodi yang dihasilkan oleh si bayi.
2.5.11 Pengobatan
Pengobatan
infeksi hepatitis virus pada kehamilan tidak berbeda dengan wanita tidak hamil.
Penderita harus tirah baring di rumah sakit sampai gejala icterus hilang dan
bilirubin dalam serum menjadi normal. Makanan diberikan dengan sedikit
mengandung lemak tetapitinggi protein dan karbohydrat.Pemakaian obat-obatan
hepatotoxic hendaknya dihindari.Kortison baru diberikan bila terjadi penyulit.
Perlu diingatpada hepatitis virus yang aktip dan cukup berat, mempunyai risiko
untuk terjadi perdarahan post-partum, karena menurun-nya kadar vitamin K. Janin
baru lahir hendaknya tetap diikuti sampai periode post natal dengan dilakukan
pemeriksaantransaminase serum dan pemeriksaan hepatitis virus antigensecara
periodik. Janin baru lahir tidak perlu diberi pengobatankhusus bila tidak
mengalami penyulit-penyulit lain.
2.5.12 Pencegahan
Semua
Ibu hamil yang mengalami kontak langsung denganpenderita hepatitis virus A
hendaknya diberi immuno globulinsejumlah 0,1 cc/kg. berat badan. Gamma globulin
ternyatatidak efektif untuk mencegah hepatitis virus B. Gizi Ibu hamil
hendaknya dipertahankan seoptimal mungkin, karena gizi yang buruk mempermudah
penularan hepatitis virus.Untuk kehamilan berikutnya hendaknya diberi jarak
sekurang-kurangnya enam bulan setelah persalinan, dengan syarat setelah 6 bulan
tersebut semua gejala dan pemeriksaan laborato-rium telah kembali
normal.Setelah persalinan, pada penderita hendaknya tetap dilakukanpemeriksaan
laboratorium dalam waktu dua bulan, empat bu-lan dan enam bulan kemudian
PENYAKIT
MENULAR SEKSUAL GONORE,SIFILIS,HIV/AIDS
PENYAKIT MENULAR SEKSUAL
(PMS)
Sekelompok penyakit yang disebabkan oleh
infeksi berbagai jenis mikroorganisme ( virus,bakteri,protozoa dan jamur) yang
menimbulkan gejala klinik utama disaluran kemih dan reproduksi (maupun
sistemik) dan/atau jalur penularannya melalui hubungan seksual.
Wanita, termasuk yang sedang hamil,
merupakan kelompok resiko tinggi terhadap PMS. Penelitian disurabaya
menyebutkan angka kematian PMS pada ibu hamil adalah 19,2%. Angka kejadian PMS
pada ibu hamil yang melakukan asuhan antenatal di Rumah Sakit Dr.Cipto
Mangunkusumo Jakarta (1998) adalah 16,1% untuk kandidiasis vaginalis, 4,2%
infeksi klamidia dan 1,2% trikomoniasis.
Penyakit menular seksual dapat
menimbulkan morbiditas dan mortalitas terhadap ibu maupun bayi yang dikandung.
I. SIFILIS
Sifilis merupakan penyakit infeksi
sistemik yang disebabkan oleh Treponema
pallidum yang dapat mengenai seluruh organ tubuh, mulai dari kulit,
mukosa, jantung hingga susunan saraf pusat, dan juga dapat tanpa manifestasi
lesi ditubuh. Infeksi terbagi atas beberapa fase, yaitu sifilis primer, sifilis
sekunder, sifilis laten dini dan lanjut, serta neurosifilis ( sifilis tersier
). Sifilis umumnya ditularkan lewat kontak seksual, namun juga dapat secara
vertical pada masa kehamilan
Lesi primer sifilis berupa tukak yang
biasanya timbul didaerah genital eksterna. Sifilis primer memiliki masa
inkubasi 10 sampai 90 hari(rata-rata 3 minggu).
Pada perempuan kelainan sering ditemukan
dilabia mayora, labia minora, atau serviks. Gambaran klinik dapat khas, akan
tetapi dapat juga tidak khas. Lesi awal berupa papul berindurasi yang tidak
nyeri , kemudian permukaanya mengalami nekrosis dan ulserasi dengan tepi yang
meninggi, teraba keras, dan berbatas tegas. Jumlah ulserasi biasanya hanya satu,
namun dapat juga multiple.
Sekitar 4 sampai 10 minggu kemudian
muncul sifilis sekunder yang ditandai dengan malese, demam, nyeri kepala,
limfadenopati generalisata, ruam generalisata dengan lesi dipalmar, plantar,
mukosa oral atau genital, kondiloma lata didaerah intertrigenosa dan alopesia.
Lesi kulit biasanya simetris,dapat berupa macula, papula, papuloskuamosa dan
pustule yang jarang disertai keluhan gatal.
Sifilis laten merupakan fase sifilis
tanpa gejala klinik dan hanya pemeriksaan serologic yang reaktif. Hal ini
mengindikasikan organisme ini masih tetap ada didalam tubuh, dan dalam
perjalananya fase ini dapat berlangsung selama bertahun-tahun, bahkan seumur
hidup. Kurang lebih 2/3 pasien sifilis laten yang tidak diobati akan tetap
dalam fase ini selama hidupnya.
Sifilis tersier terjadi pada 1/3 pasien
yang tidak diobati. Fase ini dapat terjadi sejak beberapa bulan hingga beberapa
tahun setelah fase laten dimulai.Treponema
palidum menginvasi dan menimbulkan kerusakan pada system saraf
pusat, system kardiovaskuler, mata, kulit serta organ lain. Lesi tersebut
bersifat destruktif dan biasanya muncul dikulit, tulang atau organ dalam.
Pada kehamilan gejala klinik tidak
banyak berbeda dengan keadaan tidak hamil, hanya perlu diwaspadai hasil tes
serologi sifilis pada kehamilan normal bias memberikan hasil positif palsu.
Transmisi dari ibu ke janin umumnya terjadi setelah plasenta berbentuk utuh,
kira-kira sekitar umur kehamilan 16 minggu. Oleh karena itu bila sifilis primer
atau sekunder ditemukan pada kehamilan setelah 16minggu, kemungkinan timbulnya
sifilis kongenital lebih memungkinkan.
WHO dan CDC telah
merekomendasikan pemberian terapi injeksi penisilin benzatin 2,4
juta MU untuk sifilis primer, sekunder dan laten dini. Sedangkan untuk sifilis
laten lanjut atau tidak diketahui lamanya, mendapat 3 dosis injeksi tersebut.
Alternative pengobatan bagi yang alergi terhadap penisilin dan tidak hamil
dapat diberi doksisiklin peroral,2 x100 mg/hari, atau tetrasiklin per o ral
4x500 mg/hari selama 30 hari. Bagi yang alergi terhadap penisilin dan hamil
sebaiknya tetap diberi penisilin secara desensitisasi. Bila tidak memungkinkan,
pemberian eritromisin per oral 4x500 mg/hari selama 30 hari dapat
dipertimbangkan.
II.GONORE
Gonore adalah semua infeksi yang
disebabkan oleh Neisseria
gonorrhoeae.
Gambaran klinik dan perjalan
penyakit pada perempuan dan wanita berbeda dari pria. Hal ini
disebabkan perbedaan anatomi dan fisiologi alat kelamin pria dan wanita. Gonore
pada wanita kebanyakan asimptomatik sehingga sulit untuk menentukan masa
inkubasinya.
Infeksi pada uretra dapat bersifat
simptomatik ataupun asimptomatik, tetapi umumnya jarang terjadi tanpa infeksi
pada serviks, kecuali pada perempuan yang telah dihisterektomi.
Keluhan traktus genitourinarius bawah
yang paling sering adalah dysuria yang kadang-kadang disertai polyuria,
perdarahan antara masa haid, dan menoragia. Daerah yang paling sering
terinfeksi adalah serviks. Pada pemeriksaan, serviks tampak hiperemis dengan
erosi dan secret mukopurulen.
Komplikasi sangat erat hubungannya
dengan susunan anatomi dan faal genitalia. Infeksi pada serviks dapat
menimbulkan komplikasi salpingitis atau penyakit radang panggul. Penyakit
radang panggul yang simptomatik maupun asimptomatik dapat mengakibatkan
jaringan parut pada tuba sehingga menyebabkan infertilitas atau kehamilan
ektopik.
Infeksi gonore selama kehamilan telah
diasosiasikan dengan pelvic inflammatory disease. Infeksi ini sering ditemukan
pada trimester pertama sebelum korion berfusi dengan desidua dan mengisi kavum
uteri. Pada tahap lanjut menyebabkan prematuritas, ketuban pecah
dini,korioamnionitis dan infeksi paska persalinan. Manifestasi tersering dari
infeksi perinatal, umunya ditransmisikan selama proses persalinan. Jika tidak
diterapi, kondisi ini dapat mengarah pada perforasi kornea dan panoftalmitis.
Infeksi neonatal lainnya yang lebih jarang termasuk meningitis,
sepsis,diseminata serta infeksi genital dan rektal.
Pilihan terapi yang direkomendasikan
oleh CDC adalah sefiksim 400mg per oral, seftriakson 250mg IM, siprofloksasin
500mg per oral, ofloksasin 400mg per oral, levofloksasin 250 mg per oral.
III.HIV/AIDS
Acquired immunodeficiency syndrome
(AIDS) adalah sindroma dengan gejala penyakit infeksi oportunistik atau kanker
tertentu akibat menurunnya system kekebalan tubuh oleh infeksi Human
immunodeficiency virus (HIV).
Virus masuk kedalam tubuh manusia
terutama melalui perantara darah, semen, dan secret vagina. Sebagian besar
melalui hubungan seksual. Virus ini cenderung menyerang sel jenis tertentu,
yaitu sel-sel yang mempunyai antigen permukaan CD4, terutama limfosit T yang
memegang peranan penting dalam mengatur dan mempertahankan system kekebalan
tubuh.
Gejala umum adalah demam dan keringat
malam, rasa lelah,ruam,nyeri kepala,limfadenopati,faringitis,myalgia,arthralgia,mual,muntah
dan diare. Setelah gejala mereda, mulailah diawali infeksi akut maka dapat
terjadi infeksi kronik selama beberapa tahun disertai replikasi virus secara
lambat. Kemudian setelah terjadi penurunan system imun yang berat, maka terjadi
berbagai infeksi dan pasien dapat dikatakan telah masuk pada keadaan AIDS.
Perjalan penyakit lambat dan
gejala-gejala AIDS rata-rata baru timbul 10 tahun sesudah infeksi pertama,
bahkan bias lebih lama lagi.
Kelainan yang dapat terjadi pada janin
adalah berat badan lahir rendah, bayi lahir mati, prematuritas, dan abortus.
Penatalaksanaan selama kehamilan dengan
melakukan konseling yang merupakan suatu keharusan bagi wanita positif HIV. Hal
ini sebaiknya dilakukan pada awalkehamilan, dan apabila ia memilih untuk
melanjutkan kehamilannya, perlu diberikan konseling berkelanjutan untuk
membantu wanita tersebut secara psikologis.
Kehamilan dengan Penyakit Gangguan Jiwa
(Depresi, Psikosa, Psikoneurosa)
1. Depresi
Kehamilan seharusnya adalah masa yang paling
bahagia dalam kehidupan seorang wanita, tapi buat sebagian wanita masa ini
adalah masa yang membingungkan, takut, sedih, stress, dan bahkan depresi.
Sekitar 10 – 20% wanita akan mengalami gejala-gejala depresi saat hamil, dan
seperempat sampai separuhnya akan menjadi depresi yang nyata (mayor depresi).
Depresi merupakan gangguan mood yang
menyerang 1 dari 4 wanita pada suatu titik tertentu dalam
kehidupannya, jadi tidak usah heran jika kelainan ini juga bias mengenai wanita
hamil. Tetapi sering kali depresi tidak di diagnose dengan baik saat hamil
karena sering dianggap hanya suatu bentuk gangguan keseimbangan hormone. Asumsi
ini tentu saja bias membahayakan ibu serta bayi yang dikandungnya.
Depresi bisa diobati dan dimanage selama
kehamilan. Depresi saat kehamilan atau antepartum depresi, merupakan gangguan
mood sama halnya dengan depresi klinis. Gangguan
mood merupakan kelainan biologis yang melibatkan perubahan kimia
pada otak. Saat kehamilan, perubahan hormone bias mempengaruhi kimia otak yang
berhubungan dengan depresi dan gelisah. Hal ini bias disebabkan/dimunculkan
oleh situasi yang sulit, yang akhirnya menimbulkan depresi.
Bumil dengan depresi biasanya mengalami beberapa
gejala ini selama 2 minggu atau lebih :
ü Sedih yang persisiten (menetap)
ü Sulit berkonsentrasi
ü Banyak tidur atau kurang
tidur
ü Hilangnya minat pada
aktifitas yang biasanya disukai
ü Pikiran berulang akan
kematian, bunuh diri atau putus asa
ü Gelisah
ü Rasa bersalah atau rasa tak
berguna
ü Perubahan pola makan
Hal-hal yang bisa mencetuskan depresi selama hamil :
ü Gangguan hubungan kerja
ü Riwayat depresi baik diri
maupun keluarga
ü Pengobatan infertilitas
ü Riwayat aborsi
ü Pengalaman yang stressfull
ü Adanya komplikasi dalam
kehamilannya
ü Riwayat KDRT atau trauma
Depresi yang tidak ditangani bisa
memberikan potensi bahaya ke ibu dan janin. Depresi yang tidak tertangani bisa
menyebabkan asupan nutrisi menjadi jelek, merokok dan tingkah laku ingin bunuh
diri, yang mana hal-hal ini bisa menyebabkan kelahiran kurang bulan,
berat lahir rendah, dan gangguan pertumbuhan lainnya.
Pilihan pengobatan pada wanita hamil
berupa; kelompok-kelompok suportif, psikoterapi dan obat-obatan. Bicarakan
dengan dokter atau orang lain yang mengerti persoalan yang dihadapi. Prinsipnya
jangan menghadapi depresi seorang diri, jika gejalanya berat biasanyadiberikan
anti depresi.
Penatalaksanaan;
ü Harus kita hadapi dengan
sikap serius dan mengerti
ü Hendaknya jangan menghibur,
member harapan palsu, bersikap optimis dan bergurau, karena akan memperbesar
rasa tidak mampu dan rendah diri.
ü Untuk mengatasi dengan
cepat, gunakan obat-obat penenang
Beberapa cara dalam melakukan
terapi dan konsultasi dengan dokter kandungan seperti dengan metode support
group atau psikoterapi yang dapat dilakukan secara rutin.
2. Psikosa
Suatu gangguan jiwa dengan kehilangan
rasa kenyataan (sense of reality). Keadaan ini dapat digambarkan bahwa psikosa
ialah gangguan jiwa yang serius, yang timbuk karena penyebab organik ataupun
emosional (fungsional) dan yang menunjukkan gangguan kemampuan berpikir,
bereakasi secara emosional, mengingat, berkomunikasi, menafsirkan kenyataan dan
bertindak sesuai dengan kenyataan itu, sedemikian rupa sehingga kemampuan untuk
memenuhi tuntutan hidup sehari-hari sangat terganggu. Psikosa ditandai oleh
perilaku yang regresif, hiudp perasaan tidak sesuai , berkurangnya pengawasan
terhadap impuls-impuls serta waham dan halusinasi.
Menninger telah menyebutkan lima sindroma klasik yang
menyertai sebagian besar pola psikotik:
1.
Perasan sedik,
bersalah dan tidak mampu yang mendalam
2.
keadaan terangsang
yang tidak menentu dan tidak terorganisasi, disertai pembicaraan dan motorilk
yang berlebihan
3.
regresi ke otisme
manerisme pembicaran dan perilaku, isi pikiran yanng berlawanan, acuh tak acuh
terhadap harapan sosial.
4.
preokupasi yang
berwaham, disertai kecurigaan, kecendrungan membela diri atau rasa kebesaran
5.
keadaan bingung dan
delirium dengan disorientasi dan halusinasi.
Pada penderita psikosa sering ada gangguan bicara, kehilangan
orientasi terhadap lingkungan. Aspek sosialnya membahayakan orang lain dan diri
sendiri perlu perawatan RS.
Jenis-jenis psikosa yaitu :
ü Skizopherenia
ü Paranoid
Paranoid dilain pihak adalah jenis yang sudah lebih
lanjut ditandai dengan halusinasi, yaitu persepsi palsu dan kecurigaan yang
sangat kuat, pola berfikir makin kacau dan tingkah laku makin tidak normal.
Psikosa umumnya
terbagi dalam dua golongan besar yaitu:
1. Psikosa
fungsional
Factor penyebabnya terletak pada aspek kejiwaan, disebabkan karena sesuatu yang berhubungan dengan bakat keturunan, bisa juga disebabkan oleh perkembangan atau penglaman yang terjadi selama sejarah kehidupan seseorang.
Factor penyebabnya terletak pada aspek kejiwaan, disebabkan karena sesuatu yang berhubungan dengan bakat keturunan, bisa juga disebabkan oleh perkembangan atau penglaman yang terjadi selama sejarah kehidupan seseorang.
2. Psikosa
organic
Disebabkan oleh kelainan atau gangguan pada aspek tubuh, kalau jelas sebab-sebab dari suatu psikosa fungsional adalah hal-hal yang berkembang dalam jiwa seseorang.
Disebabkan oleh kelainan atau gangguan pada aspek tubuh, kalau jelas sebab-sebab dari suatu psikosa fungsional adalah hal-hal yang berkembang dalam jiwa seseorang.
Penatalaksanaan:
1. Pengobatan
etiologik harus sedini mungkin dan di samping faal otak dibantu agar tidak
terjadi kerusakan otak yang menetap.
2. Peredaran
darah harus diperhatikan (nadi, jantung dan tekanan darah), bila perlu diberi
stimulansia.
3. Pemberian
cairan harus cukup, sebab tidak jarang terjadi dehidrasi. Hati-hati dengan
sedativa dan narkotika (barbiturat, morfin) sebab kadang-kadang tidak menolong,
tetapi dapat menimbulkan efek paradoksal, yaitu klien tidak menjadi tenang,
tetapi bertambah gelisah.
4. Klien harus
dijaga terus, lebih-lebih bila ia sangat gelisah, sebab berbahaya untuk dirinya
sendiri (jatuh, lari dan loncat keluar dari jendela dan sebagainya) ataupun
untuk orang lain.
5. Dicoba
menenangkan klien dengan kata-kata (biarpun kesadarannya menurun) atau dengan
kompres es. Klien mungkin lebih tenang bila ia dapat melihat orang atau barang
yang ia kenal dari r umah. Sebaiknya kamar jangan terlalu
gelap , klien tidak tahan terlalu diisolasi.
6. Terdapat
gejala psikiatrik bila sangat mengganggu
3. Psikoneurosa
Psikoneurosa yaitu ketegangan
pribadi terus menerus akibat adanya konflik dalam diri orang bersangkutan dan
terjadi terus menerus orang tersebut tidak dapat mengatasi konfliknya,
ketegangan tidak meresa akhirnya neurosis (suatu kelainan mental dengan
kepribadian terganggu yang ringan seperrti cemas yang kronis, hambatan emosi,
sukar kurang tidur, kurang perhatian terhadap lingkungan dan kurang memiliki
energi).
Macam-macam psikoneurosa sesuai dengan gejalanya :
1. Neurosis
kuatir atau anxiety neurosis
2. Histeria
3. Neurosis
obsesif kompulsif
No comments:
Post a Comment